VOSMEDIA – Wacana pendidikan tinggi gratis kembali memperoleh momentum penting.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan gagasan agar pendidikan negeri, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, dapat diakses tanpa biaya.
Dalam rapat terbatas pada 23 September 2026, pemerintah mulai membahas kemungkinan pelaksanaan pendidikan tinggi gratis di PTN secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal negara.
Gagasan tersebut patut ditempatkan dalam persoalan pendidikan yang lebih besar.
Persoalan pendidikan tinggi di Indonesia bukan semata-mata tentang berapa besar biaya kuliah yang harus dibayar mahasiswa.
Di balik persoalan biaya, terdapat hal lain yang jauh lebih mendasar: siapa yang sejak awal memiliki keberanian, kesiapan akademik, informasi, dan kesempatan untuk mencapai perguruan tinggi?
Pertanyaan ini menjadi penting, terutama bagi masyarakat di daerah dan keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Bagi sebagian anak, perguruan tinggi bukan hanya terasa mahal, tetapi juga terasa jauh.
Bahkan sebelum menghitung biaya kuliah, mereka telah lebih dahulu membatasi cita-citanya.
Di sinilah pembicaraan mengenai pendidikan tinggi gratis seharusnya dimulai.
Pendidikan dan Batas Cita-Cita
Keputusan seorang anak untuk tidak melanjutkan pendidikan tidak selalu lahir dari ketidakinginan untuk belajar.
Dalam masyarakat dengan tingkat partisipasi pendidikan tinggi yang masih rendah, keputusan bekerja setelah SMP atau SMA dipengaruhi oleh banyak faktor.
Faktor tersebut meliputi kondisi ekonomi keluarga, lingkungan sosial, minimnya informasi, keterbatasan beasiswa, hingga pandangan bahwa pendidikan tinggi berada di luar jangkauan.
Akibatnya, terjadi sesuatu yang jarang terlihat dalam statistik pendidikan: penyempitan cita-cita.
Seorang anak mungkin mempunyai kemampuan akademik yang baik, tetapi tidak pernah membayangkan dirinya menjadi mahasiswa.
Bukan karena tidak mampu belajar, melainkan karena perguruan tinggi sejak awal tidak hadir sebagai kemungkinan yang realistis dalam kehidupannya.
Persoalan pendidikan dengan demikian tidak hanya menyangkut kemampuan membayar biaya kuliah.
Pendidikan juga berkaitan dengan apa yang dalam kajian sosial disebut sebagai aspiration atau cakrawala aspirasi, yakni sejauh mana seseorang mampu membayangkan kemungkinan masa depannya.
Anak yang tumbuh di lingkungan tempat pendidikan tinggi menjadi sesuatu yang biasa akan lebih mudah mengatakan, “Setelah SMA, akan kuliah di mana?”
Sebaliknya, pada lingkungan dengan keterbatasan ekonomi dan tradisi pendidikan tinggi yang rendah, pertanyaannya sering berubah menjadi, “Setelah lulus, akan bekerja di mana?”
Keduanya merupakan pilihan yang sah.
Namun persoalan muncul ketika pilihan kedua bukan benar-benar pilihan, melainkan akibat dari tidak tersedianya pilihan pertama.
Pendidikan Tinggi dan Perluasan Kesempatan
Pendidikan tinggi tentu bukan satu-satunya jalan menuju keberhasilan.
Gelar sarjana juga tidak menjamin seseorang memperoleh pekerjaan atau pendapatan tertentu.
Dunia kerja dipengaruhi oleh kompetensi, kondisi ekonomi, jenis pekerjaan, pengalaman, lokasi, jaringan, serta banyak faktor lainnya.
Namun, pendidikan tinggi tetap mempunyai fungsi penting dalam memperluas pilihan seseorang.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya perbedaan rata-rata upah pekerja berdasarkan tingkat pendidikan.
Pada 2024, rata-rata upah per jam pekerja dengan pendidikan universitas tercatat Rp33.491, sedangkan pekerja berpendidikan SMA umum Rp18.170 dan SMP Rp14.100.
Data tersebut tidak dapat dibaca secara sederhana sebagai hubungan sebab-akibat bahwa ijazah otomatis menghasilkan pendapatan lebih tinggi.
Akan tetapi, perbedaan tersebut memberikan gambaran bahwa tingkat pendidikan berkaitan erat dengan jenis pekerjaan, kompetensi, produktivitas, dan kesempatan ekonomi.
Karena itu, fungsi penting pendidikan tinggi bukan semata-mata menghasilkan gelar.
Pendidikan tinggi memperluas kemungkinan.
Ia membuka akses terhadap profesi yang mensyaratkan kualifikasi tertentu, mempertemukan mahasiswa dengan jaringan baru, meningkatkan kapasitas intelektual, serta memperkenalkan dunia penelitian dan teknologi.
Dalam konteks keluarga berpenghasilan rendah, perluasan kemungkinan tersebut bahkan dapat memiliki dampak antargenerasi.
Pendidikan sebagai Mobilitas Sosial
Bayangkan seorang anak yang lahir dalam keluarga sederhana.
Ia memperoleh pendidikan menengah yang baik, memiliki prestasi akademik, berhasil masuk perguruan tinggi, memperoleh dukungan pembiayaan, lalu menyelesaikan studinya.
Ia kemudian memperoleh pekerjaan profesional atau membangun usaha.
Perubahan tersebut tidak berhenti pada dirinya.
Pendapatan dan pengetahuannya dapat mengangkat kondisi keluarganya.
Anak-anaknya kelak tumbuh dalam lingkungan yang lebih mengenal pendidikan, lengkap dengan akses terhadap buku, teknologi, informasi, dan aspirasi yang lebih tinggi.
Dalam proses semacam inilah pendidikan berfungsi sebagai instrumen mobilitas sosial antargenerasi.
Namun rantai tersebut tidak terjadi secara otomatis.
Ada beberapa tahapan yang harus dilewati: aspirasi → kesiapan akademik → prestasi → akses perguruan tinggi → dukungan pembiayaan → penyelesaian pendidikan → kompetensi → perluasan peluang ekonomi.
Kegagalan pada satu tahap dapat memutus rantai berikutnya.
Karena itulah kebijakan pendidikan tinggi gratis memiliki arti strategis, tetapi tidak dapat berdiri sendiri.
Menggratiskan Kuliah Belum Tentu Menggratiskan Kesempatan
Pemerintah saat ini sedang mengkaji skema pendidikan tinggi gratis di PTN.
Dalam pembahasan September 2026, kebutuhan anggaran untuk membiayai sekitar 2,83 juta mahasiswa PTN pada jenjang vokasi dan akademik diperkirakan mencapai Rp93,74 triliun.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa kebijakan ini merupakan kebijakan publik yang kompleks.
Ia membutuhkan tahapan, desain pembiayaan, serta keberlanjutan fiskal yang matang.
Namun terdapat pertanyaan lain yang sama pentingnya.
Jika suatu hari biaya pendidikan di PTN benar-benar dibebaskan, siapa yang akan mampu memanfaatkan kesempatan tersebut?
Perguruan tinggi gratis tidak otomatis membuat seluruh lulusan SMA dan MA memiliki peluang yang sama.
Seorang siswa tetap harus memiliki kemampuan akademik, mengetahui jalur penerimaan, memahami program studi, mampu mengikuti proses seleksi, serta membutuhkan akses informasi.
Jauh sebelum semuanya, ia harus memiliki keberanian untuk membayangkan dirinya sebagai mahasiswa.
Menghapus biaya kuliah belum tentu sekaligus menghapus ketimpangan kesempatan.
Inilah tantangan berikutnya.
Menyiapkan Anak Sebelum Pintu Terbuka
Jika negara bertugas memperluas akses dan mengurangi hambatan finansial, sekolah, madrasah, pesantren, keluarga, dan masyarakat memiliki tugas mempersiapkan anak memanfaatkan akses tersebut.
Persiapan menuju pendidikan tinggi tidak ideal apabila baru dilakukan ketika siswa berada di kelas XII.
Kemampuan akademik, budaya belajar, daya juang, pengalaman berkompetisi, literasi informasi, serta keberanian bercita-cita membutuhkan proses yang panjang.
Orientasi menuju perguruan tinggi idealnya dibangun sejak jenjang pendidikan menengah pertama.
Pendekatan seperti inilah yang mulai dikembangkan di lingkungan Yayasan Pendidikan Sabilurrosyad di Ciamis.
Pembinaan olimpiade, persiapan Tes Kemampuan Akademik (TKA), penguatan akademik, dan persiapan UTBK ditempatkan bukan sekadar sebagai program tambahan.
Program tersebut diarahkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang memperbesar peluang siswa mengakses pendidikan tinggi.
Pembinaan olimpiade, misalnya, tidak semata-mata dipandang sebagai upaya memperoleh medali.
Prestasi dapat dipahami sebagai modal pendidikan.
Anak yang memiliki keterbatasan modal ekonomi masih mungkin memiliki modal akademik berupa kecerdasan, ketekunan, kemampuan bernalar, serta disiplin belajar.
Tugas lembaga pendidikan adalah menemukan modal tersebut, mengembangkannya, lalu mengubahnya menjadi kesempatan.
Dengan kerangka ini, pembinaan akademik sejak kelas VII hingga kelas XI memperoleh makna yang mendalam.
Tujuannya bukan mencetak seluruh siswa menjadi juara olimpiade.
Tujuannya adalah membangun ekosistem yang meyakinkan anak bahwa perguruan tinggi merupakan masa depan yang dapat diperjuangkan.
Dari Modal Ekonomi Menuju Modal Prestasi
Ketimpangan pendidikan sering kali bermula jauh sebelum seseorang mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.
Keluarga berkecukupan dapat menyediakan bimbingan belajar, perangkat digital, buku, lingkungan belajar, dan jaringan sosial.
Sebaliknya, anak dari keluarga terbatas tidak selalu memiliki fasilitas tersebut.
Sekolah dan madrasah dapat mengambil peran sebagai penyeimbang kesempatan.
Jika keluarga tidak mampu menyediakan bimbingan tambahan, sekolah dapat memperkuat pembinaan akademik.
Jika siswa minim informasi, sekolah dapat menghadirkannya.
Jika siswa tidak mengetahui jalur beasiswa, sekolah dapat membantu mencarinya.
Jika siswa kurang percaya diri, sekolah dapat menciptakan ruang untuk melatihnya.
Dengan cara tersebut, lembaga pendidikan tidak sekadar mentransfer pengetahuan.
Ia sedang mengubah potensi menjadi prestasi, dan mengubah prestasi menjadi kesempatan.
Dari “Apakah Bisa Kuliah?” Menjadi “Kuliah di Mana?”
Keberhasilan sebuah ekosistem pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari nilai ujian.
Perubahan cara seorang anak memandang masa depannya juga merupakan hasil nyata dari pendidikan.
Perhatikan transformasi pertanyaan ini: Pada awalnya: “Apakah keluarga mampu menguliahkan?” Kemudian berubah menjadi: “Bagaimana caranya agar bisa masuk perguruan tinggi?” Dan pada akhirnya: “Perguruan tinggi dan program studi mana yang paling sesuai?”
Perubahan tersebut menunjukkan transformasi besar.
Anak tidak lagi memandang pendidikan tinggi sebagai sesuatu yang berada di luar dunianya, melainkan sebagai sebuah pilihan nyata.
Inilah bentuk pemberdayaan sejati melalui pendidikan.
Negara Membuka Pintu, Pendidikan Menyiapkan Manusianya
Wacana pendidikan tinggi gratis yang disiapkan pemerintah membuka harapan besar bagi keluarga prasejahtera.
Namun keberhasilan kebijakan tersebut tidak semestinya hanya diukur dari besarnya anggaran yang ditanggung negara.
Ukuran yang lebih substantif adalah apakah kebijakan ini benar-benar memperluas mobilitas sosial masyarakat.
Apakah semakin banyak anak desa dapat masuk PTN?
Apakah semakin banyak anak dari keluarga berpenghasilan rendah memperoleh pendidikan berkualitas?
Dan apakah pendidikan tersebut memperluas kesempatan ekonomi keluarganya?
Jika jawabannya positif, pendidikan gratis akan menjadi instrumen transformasi sosial yang ampuh.
Namun transformasi itu membutuhkan kerja bersama.
Negara mengurangi hambatan biaya, perguruan tinggi menjaga mutu, sekolah membangun kemampuan akademik, guru menumbuhkan kepercayaan diri, orang tua memberikan dukungan, dan masyarakat membangun budaya yang menghargai pendidikan.
Jangan Menunggu Pintu Terbuka
Belum diketahui secara pasti kapan skema pendidikan tinggi gratis akan diterapkan secara penuh karena pemerintah masih mengkaji aspek pembiayaannya.
Namun lembaga pendidikan tidak perlu menunggu seluruh kebijakan tersebut selesai untuk mulai bertindak.
Anak-anak yang hari ini berada di kelas VII atau kelas X hanya memiliki sedikit waktu untuk mempersiapkan diri.
Karena itu, pekerjaan sesungguhnya harus dimulai sekarang:
- Menumbuhkan aspirasi
- Menemukan potensi
- Membangun kemampuan
- Mendorong prestasi
- Memberikan informasi
- Mempersiapkan seleksi
- Mencari peluang beasiswa
Yang paling mendasar adalah membuat setiap anak memahami bahwa keadaan ekonomi keluarganya tidak seharusnya menjadi batas tertinggi bagi cita-citanya.
Pada titik inilah wacana kuliah gratis memperoleh makna yang utuh.
Negara dapat membuka pintu perguruan tinggi, namun pendidikanlah yang harus menyiapkan generasi agar mampu melewati pintu tersebut.
Sebab persoalan pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang dapat membayar biaya kuliah.
Persoalan yang jauh lebih besar adalah memastikan bahwa anak-anak berpotensi—dari keluarga maupun daerah mana pun—memiliki kemampuan, kesempatan, dan keberanian untuk sampai ke sana.
Jika itu dapat dilakukan, pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan.
Ia mengubah kemungkinan hidup seseorang, mengangkat sebuah keluarga, dan pada akhirnya mengubah sebuah generasi.
Penulis: Ibrahim
Direktur Pendidikan Yayasan Pendidikan Sabilurrosyad Ciamis